LAPORAN PRAKTIKUM PEWARNAAN JAMUR ( FUNGI )
LAPORAN PRAKTIKUM
“PEWARNAAN JAMUR (FUNGI)”
DISUSUN OLEH :
Nama : Rini Chori'ah
LABORATORIUM MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI
PRODI D3 FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BENGKULU
TAHUN AKADEMIK 2021/2022
A. Tujuan
Mengidentifikasi morfologi pada jamur.
B. Landasan Teori
Jamur pada umumnya adalah jasad yang berbentuk benang, multiseluler, tidak berkhlorofil dan belum mempunyai diferensiasi dalam jaringan. Ada pula yang hanya terdiri dari satu sel. Struktur jamur. Walaupun jamur dapat dilihat, namun masing-masing sel adalah mikroskopik. Jamur tersusun atas benang-benang sel yang disebut hifa. Jika jamur tumbuh, hifa saling membelit untuk membentuk massa benang yang disebut miselium yang cukup besar untuk dilihat dengan mata (Lim, 2006).
Kapang
- Ciri-ciri
Pada umumnya kebanyakan kapang membutuhkan aw minimal untuk pertumbuhan lebih rendah dibandingkan dengan khamir dan bakteri. Kadar air bahan pangan kurang dari 14-15%, misalnya pada beras dan serealia, dapat menghambat atau memperlambat pertumbuhan kebanyakan khamir Pada umumnya kapang dapat menggunakan berbagai komponen makanan, dari yang sederhana hingga kompleks. Kebanyakan kapang memproduksi enzim hidrolitik, misal amylase, pektinase, proteinase dan lipase, oleh karena itu dapat tumbuh pada makanan-makanan yang mengandung pati, pektin, protein atau lipid .Kebanyakan kapang bersifat mesofilik yaitu tumbuh baik pada suhu kamar. Suhu optimum pertumbuhan untuk kebanyakan kapang adalah sekitar 25-30 0 C tetapi beberapa dapat tumbuh pada suhu 35-37 0 C atau lebih tinggi. Beberapa kapang bersifat psikrotrofik dan beberapa bersifat termofilik (Colome, 2001).
Kapang terdiri dari suatu thallus yang tersusun dari filamen yang bercabang yang disebut dengan hifa. Kumpulan dari hifa disebut dengan miselium. Hifa tumbuh dari spora yang melakukan germinasi membentuk suatu tuba germ, dimana tuba ini akan tumbuh terus membentuk filamen yang panjang dan bercabang yang disebut hifa, kemudian seterusnya akan membentuk suatu massa hifa yang disebut miselium. Pembentukan miselium merupakan sifat yang membedakan grup-grup didalam fungi. Hifa dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu hifa vegetatif atau hifa tumbuh dan hifa fertil yang membentuk bagian reproduksi. Pada kebanyakan kapang hifa fertil tumbuh di atas permukaan, tetapi pada beberapa kapang mungkin terendam. Penyerapan nutrien terjadi pada permukaan miselium. Sifat-sifat kapang baik penampakan makroskopik ataupun mikroskopik digunakan untuk identifikasi dan klasifikasi kapang. Kapang dapat dibedakan menjadi dua kelompok berdasarkan struktur hifa yaitu hifa tidak bersekat atau nonseptat dan hifa bersekat atau septat yang membagi hifa dalam ruangan-ruangan, dimana setiap ruangan mempunyai satu atau lebih inti sel (nukleus). Dinding penyekat yang disebut septum tidak tertutup rapat sehingga sitoplasma masih bebas bergerak dari suatu ruangan ke ruangan lainnya (Cowan, 2004).
Pertumbuhan kapang biasanya berjalan lambat bila dibandingkan dengan pertumbuhan khamir dan bakteri. Oleh karena itu jika kondisi pertumbuhan memungkinkan semua mikroorganisme untuk tumbuh, kapang biasanya kalah dalam kompetisi dengan khamir dan bakteri. Tetapi sekali kapang dapat mulai tumbuh, pertumbuhan yang ditandai dengan pembentukan miselium dapat berlangsung dengan cepat (Fardiaz, 2002).
- Jenis-jenis
Khamir
- Ciri-ciri
Khamir dapat tumbuh dalam media cair dan padat dengan cara yang sama seperti bakteri. Khamir kebanyakan berkembangbiak secara aseksual atau pertunasan. Pertunasan yaitu suatu proses penonjolan protoplasma keluar dari dinding sel seperti pembentukan tunas, pembesaran, dan akhirnya pelepasan diri menjadi sebuah sel khamir baru. Mula-mula timbul suatu gelembung kecil dari permukaan sel induk. Gelembung ini secara bertahap membesar, dan setelah mencapai ukuran yang sama dengan induknya terjadi pengerutan yang melepaskan tunas dari induknya (Colome, 2001).
Sel yang baru terbentuk selanjutnya akan memasuki tahap pertunasan kembali. Bagi kebanyakan khamir seperti Sacharomyces cerevisae, tunas dapat berkembang dari setiap bagian sel induk (pertunasan multipolar), tetapi bagi beberapa spesies hanya pada bagian tertentu saja. Pada khamir-khamir dengan pertunasan bipolar (spesies Hanseniaspora) pembentukasn tunas terbatas pada dua bagian sel yang berlawanan dan sel berbentuk jeruk (lemon) atau bentuk apikulatif. Pada spesies dari genusTrigonopsis, pertunasan terbatas pada tiga titik dari permukaan segitiga. Beberapa jenis khamir dapat berkembangbiak dengan pembelahan. Kisaran suhu untuk pertumbuhan kebanyakan khamir pada umumnya hampir sama dengan kapang, yaitu suhu optimum 25 – 30 derajat celcius dan suhu maksimum 34 – 47 derajat celcius, tetapi beberapa khamir dapat tumbuh pada suhu 0 derajat celcius. Kebanyakan khamir lebih cepat tumbuh pada pH 4,0 - 4,5 dan tidak dapat tumbuh dengan baik pada medium alkali, kecuali jika telah beradaptasi (Cowan, 2004).
Khamir bersifat aerob yaitu mutlak memerlukan oksigen. Kecuali khamir yang bersifat fermentatif yang hidup dalam keadaan anaerob yaitu tidak memerlukan oksigen bebas. Nutrisi yang diperlukan khamir untuk pertumbuhan yaitu nitrogen dalam bentuk sederhana atau kompleks misalnya dalam bentuk ammonia dan urea atau asam amino dan polipeptida. Khamir tidak berperan dalam penyakit yang ditularkan melalui makanan . Askospora (spora) khamir dapat dibunuh pada suhu 5 - 10oC lebih besar dari sel vegetatifnya. Sebagian besar askospora khamir terbunuh pada suhu 60oC selama 10 – 15 menit. Ada juga yang resisten pada keadaan tersebut tetapi pada umumnya tidak dapat hidup pada suhu 100oC. Sel khamir vegetatif terbunuh pada suhu 50oC - 58oC dalam waktu 10 – 15 menit. Spora mempunyai sel vegetatif khamir pada suhu terbunuh pada proses pasteurisasi pada suhu 62,8oC dalam waktu 30 menit atau pada suhu 71,7oC dalam waktu 15 detik (Suriawiria, 2005).
- Jenis-jenis
ALAT
- Objek glass
BAHAN
- Gentian violet (Ungu)
D. Prosedur Kerja
1. Ambil objek glass bersihkan dengan alkohol 70%
E. Hasil Dan Pembahasan
HASIL
GAMBAR | KETERANGAN |
Sampel sayur + air dengan menggunakan pewarna metilen blue | |
Sampel air + sayur dengan menggunakan pewarna gentian violet | |
Sampel sayur -10 dengan metilen blue | |
Sampel sayur -10 dengan menggunakan gentian violet |
Fungi atau
jamur adalah suatu divisi organisme eukariotik yang tumbuh dalam massa yang
tidak beraturan, tanpa akar, batang, atau daun, dan tanpa klorofil atau pigmen
lainyang mampu berfotosintesis. Setiap organisme (talus) bersifat uniseluler
hingga filamentosa, dan memiliki struktur somatik bercabang (hifa) yang berisi
oleh dinding sel yang mengandung selulosa atau sitin atau kelebihan, dan
mengandung nuklei asli. Organisme ini bereproduksi secara seksual atau aseksual
(pesanan spora) dan dapat memperoleh makanan dari organisme hidup lain sebagai
parasit atau dari bahan organik sebagai saprofit (Direkx, 2001).
Jenis jamur
yang digunakan dalam praktikum morfologi jamur ini adalah Aspergillus niger dan
Saccharomycces cerevisiae. Aspergillus niger merupakan salah satu dari tiga spesies
Aspergillus. Menurut Sacher dkk. (2002), jamur jenis Aspergillus mudah tumbuh pada
bakteri dan jamur, membentuk koloni yang dapat dilihat dalam 3 hari inkubasi. Bagod
dan Laila (2006) juga mengatakan, Aspergillus dapat hidup sebagai saprofit dan parasit
pada substrat makanan, pakaian, manusia, dan burung. Aspergillus biasanya tumbuh
berkoloni pada makanan, pakaian, dan alat-alat rumah tangga. Koloni Aspergillusbiasanya
tampak berwarna abu-abu, hitam, cokelat, dan kehijauan. Jamur ini dapat tumbuh
subur di daerah beriklim dingin maupun tropis. Aspergillus melakukan sesi seksual
dan aseksual. Reproduksi secara aseksual terjadi dengan Reservasi kuncup atau tunas
pada jamur uniseluler serta pemutusan benang hifa (fragmentasi miselium) dan Pemesanan
spora aseksual (spora vegetatif) pada jamur multiseluler. Reproduksi jamur secara
seksual dilakukan oleh spora seksual.
Bagian tubuh
dari Aspergillus niger yang tampak ketika diamati dengan menggunakan mikroskop
adalah bagian spora, sporangium dan sporangiofor. Rizoid dari Aspergillus niger
tidak tampak disebabkan ketika pengambilan Aspergillus niger dari medium kurang
ke bawah, sehingga yang terambil hanyalah bagian sporangiofor dan sporangiumnya
saja. Spora pada Aspergillus niger berfungsi sebagai saat seksualnya sedangkan
sporangium berfungsi sebagai tempat spora berada. Menurut Miskiyah dkk.(2006),
Aspergillus niger mempunyai hifa bersepta, koloninya berwarna putih pada PDA 25
o C dan berubah menjadi hitam ketika konidia berbentuk. Kepala konidia Dari Aspergillus
niger berwarna hitam bulat, cenderung menjadi bagian-bagian yang lebih
longgar seiring dengan
bertambahnya umur. Selain itu, Aspergillus niger memiliki warna dasarberwarna putih atau kuning dengan
lapisan konidiospora tebal coklat gelap sampai hitam. Secara terbalik,
permukaan terlihat berwarna putih kehitaman, ketika diposisi terbalik
(berlawanan) terlihat berwarna putih kekuningan.
Aspergillus niger dalam kehidupan memiliki banyak fungsi, salah satunya adalah digunakan dalam proses fermentasi. Menurut Miskiyah dkk. (2006), proses pembuatan ampas menjadi pakan dilakukan secara fermentasi menggunakan spora Aspergillus niger. Penggunaan cara ini dapat mempengaruhi kandungan nutrisi produk pakan. Kadar lemak yang masih tinggi dapat dikurangi dengan adanya aktivitas enzim lipase dari Aspergillus niger selama fermentasi. Selain itu menurut Bagod dan Laila (2006), Aspergillus niger dapat digunakan untuk menghilangkan oksigen (O 2 ) dara sari buah dan menjernihkan sari buah. Jamur tersebut dapat menghasilkan enzim glukosa oksidase dan pektinase. Saccharomyces merupakan jamur uniseluler. Jamur ini biasa dikenal orang sebagai ragi, khamir, atau yeast. Ragi dapat bereproduksi secara aseksual dan seksual. Menurut Bagod dan Laila (2006), percobaan aseksual biasa dilakukan dengan cara membentuk kuncup kecil (budding) pada sel yang berbentuk oval. Kuncup tersebut membesar dan terlepas dari sel induknya. Reproduksi seksual terjadi jika suplai makanan terhenti atau lingkungan tidak mendukung untuk melakukan secara aseksual. Akibatnya, terbentuk askus dan askospora. Askospora dari dua tipe yang berlainan bertemu dan menyatu menghasilkan sel diploid. Selanjutnya, terjadi pembelahan secara meiosis sehingga beberapa askospora (haploid) dihasilkan lagi. Askospora haploid tersebut berfungsi secara langsung sebagai sel ragi baru.
F. Kesimpulan Dan Saran
SARAN
Perlu dilakukan penjelasan mengenai teknik penguraian hifa karena mengacu pada trouble shooting yang terjadi karena akibat ketidak mampuan mengurai hifa secara benar.


Komentar
Posting Komentar